[Review Movie]Shutter Island
Senin, 01 Maret 2010 - - 0 Comments
Tertarik setelah melihat trailer film "Shutter Island" ini di youtube beberapa bulan yang lalu membuat saya semakin tidak sabar sekali ingin segera menonton film ini. Akhirnya setelah di undur 6 bulan, film ini pun di rilis. Saya tidak ingin membuang kesempatan setelah melihat jadwal bioskop sabtu lalu yang tertera bahwa film ini akan tayang pada jam midnight. Well gue akan membuat review singkat untuk film ini.
Pada tahun 1954, U.S Marshal Teddy Daniels (Leonardo Di caprio) dan teman partnernya yang baru, Chuck Aule (Mark Ruffalo), pergi ke Rumah sakit Jiwa Achecliff di Pulau Shutter untuk menyelidiki suatu tindak kriminal yang telah terjadi di sana. Mereka menyelediki hilangnya Rachel Solando (emily Mortimer), seorang pasian yang hilang di kamar yang terkunci. Dr Jihn Cawley, kepala dari Psikiater di Shutter Island, menjelaskan bahwa rachel berada di shutter island setelah menenggelamkan ketika anaknya di danau dekat rumahnya dan dia masih percaya bahwa ketiga anaknya tersebut masih hidup. Namun setelah teddy daniels dan rekannya menyelediki lebih dalam kasus ini, Mereka menemui banyak rintangan saat mereka menginterogasi kepala rumah sakit, badai dahsyat dan terdapat banyak keganjilan-keganjilan disekitar rumah sakit tersebut.
Apakah Teddy berhasil memecahkan kasus yang berada di shutter island?
Conclusion :
Martin Scorsese(sang sutradara) telah berhasil membuat saya cukup terkagum-kagum selama 134 menit. Dia dapat mengemas cerita ini dengan baik, meski plot dan alur yang di sajikan cukup kompleks bagi para moviers. Moviers di ajak untuk terus bepikir kemana arah jalan cerita selanjutnya bahkan sampai filmnya berakhirpun penonton diajak berfikir bagaimana kesimpulan akhir dari filmya, ibaratnya seseorang yang berada di sebuah labirin untuk mencari jalan keluar. Martin juga dengan baik menghadirkan suasana dark dari film yang bertemakan thriller ini.
Di dukung dengan leonardo Di caprio yang dapat memerankan Teddy Daniels dengan sangat baik, membuat emosi penonton bercampur aduk dan timbul rasa simpati kepada karakter Teddy Daniels ini. Film ini semakin dashyat dengan di perkuat akting para aktris pembantu yang ternyata tidak hanya menghidupkan suasana, seperti peran sebagai pasien sakit jiwa yang dapat di tampilkan dengan baik, sehingga membuat penonton semakin "terpikat" dengan karakter dari seorang Teddy daniels.
Overral, saya akan memberi nilai kepada film ini 8,5/10
Pada tahun 1954, U.S Marshal Teddy Daniels (Leonardo Di caprio) dan teman partnernya yang baru, Chuck Aule (Mark Ruffalo), pergi ke Rumah sakit Jiwa Achecliff di Pulau Shutter untuk menyelidiki suatu tindak kriminal yang telah terjadi di sana. Mereka menyelediki hilangnya Rachel Solando (emily Mortimer), seorang pasian yang hilang di kamar yang terkunci. Dr Jihn Cawley, kepala dari Psikiater di Shutter Island, menjelaskan bahwa rachel berada di shutter island setelah menenggelamkan ketika anaknya di danau dekat rumahnya dan dia masih percaya bahwa ketiga anaknya tersebut masih hidup. Namun setelah teddy daniels dan rekannya menyelediki lebih dalam kasus ini, Mereka menemui banyak rintangan saat mereka menginterogasi kepala rumah sakit, badai dahsyat dan terdapat banyak keganjilan-keganjilan disekitar rumah sakit tersebut.
Apakah Teddy berhasil memecahkan kasus yang berada di shutter island?
Conclusion :
Martin Scorsese(sang sutradara) telah berhasil membuat saya cukup terkagum-kagum selama 134 menit. Dia dapat mengemas cerita ini dengan baik, meski plot dan alur yang di sajikan cukup kompleks bagi para moviers. Moviers di ajak untuk terus bepikir kemana arah jalan cerita selanjutnya bahkan sampai filmnya berakhirpun penonton diajak berfikir bagaimana kesimpulan akhir dari filmya, ibaratnya seseorang yang berada di sebuah labirin untuk mencari jalan keluar. Martin juga dengan baik menghadirkan suasana dark dari film yang bertemakan thriller ini.
Di dukung dengan leonardo Di caprio yang dapat memerankan Teddy Daniels dengan sangat baik, membuat emosi penonton bercampur aduk dan timbul rasa simpati kepada karakter Teddy Daniels ini. Film ini semakin dashyat dengan di perkuat akting para aktris pembantu yang ternyata tidak hanya menghidupkan suasana, seperti peran sebagai pasien sakit jiwa yang dapat di tampilkan dengan baik, sehingga membuat penonton semakin "terpikat" dengan karakter dari seorang Teddy daniels.
Overral, saya akan memberi nilai kepada film ini 8,5/10
This entry was posted on Senin, Maret 01, 2010
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar