Akhir dari sebuah perjalanan.
Jumat, 03 Februari 2012 - - 0 Comments
Ada awal pasti ada akhir, Ada pertemuan pasti ada perpisahan. kata-kata itu sudah tidak asing aku dengar di kehidupan ini. Ketika pertama kali aku mendengar kata-kata seperti itu, reaksiku hanya tersenyum kecut seolah" dalam hati berbisik "Hah! WTH! Kok melankolis sekali". Tapi sekarang aku mengalaminya, kata" tersebut seakan" mengena sekali apa yang terjadi di dalam kehidupanku.
Sekarang hal itu sudah berakhir, setiap malam aku selalu menatap jendela melihat pekatnya malam dan awan yang berwarna kemerahan menutupi bintang-bintang di langit. Kemudian tidak sadar pantulan diriku sendiri terlihat dari kaca yang bening tersebut dan tiba" aku teringat kenangan awal pertama kali aku memumali hal itu. Aku tersenyum mengingat masa-masa ketika itu terjadi.
Ketika masa masa SMA aku hanyalah seorang pelajar normal yang menikmati masa-masa sekolah seperti apa yang di rasakan oleh pelajar lainnya. Belajar, bermain,canda tawa, iseng kepada teman dan guru" yang sering aku buat kesal dan marah. Aku sungguh menikmati hal-hal tersebut, namun jujur saja tekanan yang aku rasakan ketika sekolah dulu tidaklah ringan justru lebih berat daripada kuliah tapi itu tidak membuatku merasa keberatan dan aku menikmati hal hal menegangkan itu.
Namun semua itu agak sedikit berubah Ketika ayahku meninggal ketika aku kelas SMA 3 menjelang persiapan UAN. Sungguh suatu pukulan yang cukup telak untukku dan keluargaku, bagaimana tidak ayahku meninggal ketika beliau terlelap namun ternyata beliau terlelap untuk selamanya.
Setelah ayahku meninggal akupun mau tidak mau harus membantu pekerjaan ibuku. Sebelumnya aku akan jelaskan sedikit pekerjaan ibuku.
Ibuku bekerja sebagai wiraswasta yang menjalankan usahanya yang jika dibagi dari segi waktu maka akan menjadi 2 shift yaitu Shift pagi dan malam. Shift pagi ibuku dan shift malam ayahku. Ibuku berperan sebagai pemilik modal, dengan menginvestasikan modalnya kepada para pedagang kemudian dengan sistem share profit dalam jangka waktu harian.
Kemudian dengan tidak adanya ayahku maka secara langsung shift malam aku yang mengambil alihnya.
Aku yang sama sekali belum ada pengalaman menjalani pekerjaan ini pun agak sedikit gugup, karena jujur saja aku selama ini tidak ingin tahu menahu apa yang di kerjakan oleh ayah dan ibuku.
Hari pertamapun diawali dengan perkenalan antara aku dengan para klien yang dipandu oleh ojekku. Yap!selama ini keluargaku memakai ojek pribadi selain untuk mengantar adikku ke sekolah tetapi juga untuk mengantarkan ayahku ke para klien" tersebut. Aku pun mulai berkenalan dengan satu persatu pedagang yang menjadi kerabat ibuku,mulai dari tukang soto, nasi goreng, martabak, ketoprak, tukang bubur, es campur, siomay, susu jahe, majalah, cakwe, ayam goreng dan banyak lagi. Wilayahnya pun dari yang dekat rumahku (pejagalan) hingga muara karang.
Hari demi hari aku lewati, banyak hal suka dan duka aku lewati selama menjalankan pekerjaan ini, hal suka apabila para pedagang tersebut ramai pembeli sehingga share profit menjadi lebih stabil, namun dukanya para pedagang tersebut berpura" tidak laku atau bener" tidak laku bahkan terancam bankrut. Dari para pedagang yang bercerita tentang selingkuhannnya hingga aku di ajak karaoke bersama wanita malam.
Namun aku paling suka ketika perjalanan menuju kios yang berada di muara karang, profit yang di dapat lebih besar itu bukan menjadi faktor utama aku paling suka ke muara karang, faktor utamanya yaitu disana banyak wanita-wanita cantik. Tentu saja aku pria normal yang menyukai wanita-wanita cantik, selain itu juga disana sering menjadi pemacu semangat dan motivasiku karena di sana banyak pemuda-pemuda yang sudah cukup sukses dengan mempunyai mobil yang bagus meski aku tidak tahu mobil tersebut dari hasil usahanya atau dari kekayaan orang tuanya namun hal tersebut bukanlah hal yang penting kemudian kesukesan pemuda tersebut semakin lengkap dengan mendapatkan partner yang cantik.
Aku tidak munafik, aku ingin sukses dan mapan dalam kehidupan ini selain untuk membahagiakan orang tuaku yaitu mendapatkan pendamping yang cantik.
Dalam perjalanan menuju ke kios para klien, sering aku merenung yang disertai hembusan angin malam. Kadang timbul perasaan tidak tega didalam hatiku, aku yang hanya menyerahkan modal dan para pedagang tersebut yang mengerahkan sepenuh tenaga hingga larut malam dapat menikmati hasilnya juga. Namun itu lah kehidupan sobat.
1 Tahun
2 Tahun
3 Tahun
Tidak terasa 3 tahun aku menjalani pekerjaan ini, sudah banyak hal yang terjadi selama ini selain yang aku ceritakan diatas, aku ingin sekali menceritakan semuanya namun kurasa akan menjadi sangat panjang. hehehe.
Perekonomian indonesia cenderung turun dan semakin banyak mall ada di jakarta kemudian ditambah dengan adanya pergeseran sosial anak muda lebih menyukai untuk makan di mall, cafe atau restoran daripada makan di pinggir jalan atau tenda sehingga berdampak buruk kepada pedagang-pedagang yang menjadi klien ku yang memang notabene semuanya pedangang tenda dan pinggir jalan. Jika dulu aku sering melihat tawa dan senyum, serta kiosnya yang selalu sesak dipenuhi orang perlahan-lahan senyum dan tawa itu menghilang. Dan satu persatupun gulung tikar dan menutup usahanya, atau para pedagang tersebut pindah ke tempat yang menurutnya lebih strategis. Dengan terjadinya kejadian luar biasa itu Usahakupun menurun cukup drastis bagaimana tidak dari 40 pedagang berkurang menjadi 13 pedagang.
4 Tahun
Tahun ke 4 pun menjadi puncak dari kemunduran usahaku sekaligus merupakan akhir dari perjalananku. Seiring dengan memburuknya perekonomian para pedagang klienku hanya tersisa 5 saja. Aku sungguh tidak menyangka bahwa akan secepat ini, karena sewaktu aku memulai mengambil alih usaha ini tidak terbesit sama sekali dipikiranku bahwa akan berakhir dalam waktu 4 tahun. Rasa sedih tidak dapat dpisahkan dari perasaan ini. Dengan tersisa 5 klien, Sekarang aku serahkan kepada karyawanku (ojek) untuk menghimpun keuntungan dari para klienku yang kemudian disetorkan kepada ku. Akhirnya perjalananku dalam pekerjaan malam ini mencapai titik akhir.
Namun aku sungguh bersyukur Tuhan sudah memberikan pengalaman ini.
dan Tiba" seseorang menepuk bahuku sebelah kanan dari belakang, aku pun tersadar dari kenanganku. Aku menoleh kebelakang, ternyata kakakku menyampaikan pesan dari ibuku untuk menyuruhku segera makan malam. Aku segera melangkahkan kakiku menuju meja makan sambil bergumam "Aku yakin akan ada sebuah perjalanan yang lebih seru dan menyenangkan yang diberikan Tuhan untukku"
Sahabatmu
SanjeeVizu
This entry was posted on Jumat, Februari 03, 2012
You can follow any responses to this entry through
the RSS 2.0 feed.
You can leave a response,
or trackback from your own site.
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar